Sabtu, 15 Desember 2012

MENGAPA SAYA LAYAK MENJADI GURU BERPRESTASI


MENGAPA SAYA LAYAK MENJADI GURU BERPRESTASI
BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Lulus SMA tahu 1991, berangkat dari kampung menuju Medan dengan satu cita-cita harus kuliah, Dengan bakat yang saya miliki saya sebenarnya ingin menjadi seorang desainer, sejak SD saya sangat senang menggambar, bahkan saya pernah mewakili sekolah dalam perlombaan seni antar sekolah waktu itu, kalau sekarang tepatnya dinamakan O2SN ( Olimpiade Olah Raga dan Seni ). Kegemaran saya menggambar berlanjut sampai ke SMA karena kebetulan sekali waktu itu saya tinggal  dengan guru SMA saya yang kebetulan seorang guru Seni Rupa.  Dengan perasaan bangga saya mengambil formulir UMPTN waktu itu dan dengan mantap dan tekad bulat saya memilih ITB dengan jurusan Seni Rupa sebagai pilihan pertama.  IKIP Medan dengan jurusan Seni Rupa adalah pilihan kedua saya setelah ITB, dan Alhamdulillah pilihan pertama saya tidak lulus tetapi rasya syukur masih tetap terucap karena saya diterima di IKIP Medan dengan jurusan yang sama.
Sejak mendaftar di IKIP Medan dibenak saya belum ada  keinginan untuk menjadi seorang guru. Tetapi saya sangat menikmati masa-masa kuliah karena kegemaran saya menggambar dan ditambah dengan pengetahuan tentang kesenirupaan serta pengalaman - pengalaman  untuk berkarya dan sering mengikuti pameran membuat saya lupa akan menjadi seorang guru. Bahkan ada terbersit keinginan untuk menjadi seorang seniman saja karena waktu itu saya masih ingat dengan rambut gondrong, jeans lusuh, kaos oblong dan membawa perlengkapan melukis rasanya sudah seperti seorang seniman.
Semester V ( lima ) membuyarkan seluruh harapan saya waktu itu, dimana saya harus mengikuti PPL ( Program Pengalaman Lapangan ) dan saya harus meninggalkan seluruh kesenangan saya waktu itu rambut gondrong harus dipangkas, jeans lusuh dan kaos oblong berganti dengan pakaian rapi dan kemeja.
SMA Negeri 4 Padang Sidempuan menjadi tempat saya pertama dipanggil Bapak oleh siswa, karena kebetulan disekolah ini tidak ada guru seni rupa  maka guru pamong saya waktu itu adalah seorang guru agama. Saya masih terkenang bagaimana saya waktu itu pertama kali masuk kelas saya tidak berbicara sedikitpun, tetapi yang saya lakukan adalah menggambar sebuah pemandangan dipapan tulis, alangkah terkejutnya saya waktu itu karena sebagian besar siswa mengambil buku gambar dan meniru apa yang saya gambar dipapan tulis. Memang mereka tidak punya guru seni rupa tetapi setiap pelajaran seni mereka selalu ditugaskan oleh guru pengganti yaitu guru agama yang sekaligus sebagai pamong yang saya ceritakan diatas.  Dan pamong saya ini adalah salah satu orang yang menguatkan saya untuk menjadi seorang gur dengan alasan yang cukup sederhana yaitu:  “orang  yang mengajarkan ilmu keabaikan kepada orang lain  akan mendapatkan derajat yang tinggi disisi Alloh”. Jika ilmu yang saya ajarkan diajarkan ke orang lain lagi dan memberi manfaat, maka akan mendapatkan pahala dan derajat semakin tinggi. Dengan inilah saya berusaha untuk mencintai profesi saya sebagai guru, kalupun tidak bisa menjadi desiner atau seniman paling tidak saya akan mengajari orang untuk menjadi desainer atau seniman.
Oktober tahun 1994 saya lulus dengan IP tertinggi, artinya saya adalah seorang calon guru terbaik jurusan senirupa waktu itu, dan Alhamdulillah sekali saya mengikuti test CPNS saya langsung lulus. Saya diangkat pertama kali menjadi CPNS mulai tanggal 1 Desember 1995 dengan golongan  pangkat II/c dan ijazah yang saya memiliki Diploma III/ Akta Mengajar III. Saya berusaha untuk meningkatkatkan kualifikasi akademik, dengan meneruskan   kuliah lagi tahun 1998 dan tahun 2002 saya lulus S-1. Agaknya nasib saya  semakin  membaik  tahun 2010 saya sudah  lulus sertifikasi, walaupun saya belum menerima tunjangan sertifikasi waktu itu saya memberanikan diri untuk mendaftar S-2 di Pascasarjana UNIMED dan sampai sekarang saya sudah semester III jurusan Teknologi Pendidikan.
Langkah ini semua saya tempuh dengan tujuan akan menghasilkan perestasi kedepan terutama untuk peningkatan karir, karena bagaimanapun saya atau kita semua yang mempunya profesi guru harus bisa mempertanggung jawabkan apa yang sudah kita terima dari pemerintah khususnya tunjangan profesi. Menjadi Guru Profesional adalah tanggung jawab besar yang harus kita emban, guru profesional bukan sekedar simbol yang dicantumkan dalam sertifikat pendidik, tetapi mutlak harus dipikul dan dilaksanakan.
Banyak hal yang membuat penulis kadang merasa pemerintah salah besar tidak melakukan evaluasi tentang pemberian tunjangan profesi tersebut, begitu banyak guru yang tidak layak disebut profesional. Permasalahannya tetap sama dengan sebelum dilaksanakan sertifikasi guru yaitu ketidakmampuan guru untuk melaksanakan tugas pokok dan funsinya.

A.    IDENTIFIKASI  MASALAH
Secara umum permasalahan dalam proses pembelajaran merupakan hal yang komlpleks, Setiap masalah itu tentu dapat diselesaikan apabila kita bisa mencari solusi yang tepat, seberapa tepatkah pendekatan mengajar yang dipakai oleh seorang guru, baik mengenai pengetahuan, strategi pembelajaran, keahlian professional, kemampuan motivasi, evaluasi dan lain-lain sehingga guru dapat disebut sebagai guru yang profesional.
Upaya – upaya apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang guru sehingga dapat meningkatkan kemampuan dan sumber daya yang dibutuhkan dalam pencapaian prestasi akademik dan non akademik siswa dalam proses pembelajaran.
Dari latar belakang masalah yang disampaikan diatas masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah bagaimana mengukur profesinal seorang guru, bagaimana menjadi seorang guru yang berprestasi, teori apa yang harus digunakan untuk mencapai hal tersebut, apa saja yang menjadi syarat menjadi guru yang profesional, apakah sebuah teori pembelajaran dapat menyelesaikan semua masalah.

B.     RUMUSAN MASALAH
Dari pemaparan identifikasi  masalah yang disampaikan diatas masalah yang akan dibahas pada makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut : 
1.      Bagaimana  mengukur profesional seorang guru.
2.      Upaya apa yang harus dilakukan seorang guru untuk menjadi seorang guru yang berprestasi.
3.      Kenapa saya layak menjadi seorang guru yang berprestasi. 














BAB II
PEMBAHASAN

A.      MENGUKUR PROFESIONAL GURU
Tidak dapat dipungkiri bahwa pekerjaan Guru adalah pekerjaan yang professional, sebab itu diperlukan kemampuan. Kemampuan itu dapat dilihat pada kesanggupannya menjalankan peran sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pengarah, pelatih, penilai dan pegevaluasi pada kegiatan pembelajaran.
Sebagai wujut dari Reformasi Pendidikan, berbagai kebijakan dan inovasi pendidikan dewasa ini diarahkan kepada peningkatan kualitas guru. Dalam rangka penigkatan kualitas guru, pemerintah  dihadapkan pada persoalan-persoalan yang sangat kompleks, berbagai upaya sudah dilakukan oleh pemerintah maupun swasta dalam usaha meningkatkan kualitas guru, misalnya dengan melaksanakan pelatihan-pelatihan, workshop, MGMP, seminar dll. Namun usaha-usaha tersebut belum sepenuhnyan berhasil bahkan masih jauh dari harapan. Salah satu penyebabnya adalah setiap kegiatan seperti tersebut diatas pada umumnya hanya bersifat teoritis yang belum tentu dapat diimplementasikan oleh seorang guru di dalam kelasnya. Masih terlalu banyak masalah yang berkaitan dengan proses pembelejaran di dalam kelas yang sampai saat ini  belum terpecahkan. Implementasi antara teori dan praktek yang dipelajari  disetiap kegiatan pelatihan belum tentu dapat terlaksana dengan pelajaran yang berbeda, di dalam kelas yang berbeda, dengan guru yang berbeda bahkan dengan sekolah yang berbeda.
Salah satu usaha yang paling fenomenal saat ini adalah  implementasi pelaksanaan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Yang bertujuan sebagai usaha menigkatkan kualitas guru dan dosen dengan dasar bahwa fungsi, peran dan kedudukan guru dan dosen sangat strategis dalam pembangunan nasional terutama dalam bidang pendidikan. Usaha Peningkatan kualitas ini di ikuti dengan usaha peningkatan kesejahteraan bagi guru dan dosen yang telah memperoleh sertifikat pendidik sebagai bukti formal yang menyatakan pengakuan sebagai guru PROFESIONAL, dengan kata lain bahwa guru yang  sudah memperoleh sertifikat Profesi berhak mendapatkan Tunjangan Profesi. Pemberian tunjangan profesi ini dijelaskan pada Pasal 16 ayat (1) –(4) yang diatur melalui Perturan Pemerintah Nomor 41 tahun 2009, dimana besarnya tunjangan adalah sebesar 1 ( satu ) kali gaji pokok bagi pegawai negeri sipil, dan bagi guru dan dosen bukan pegawai negeri sipil diberikan sesuai dengan kesetaraan tingkat, masa kerja, dan kualifikasi akademik yang berlaku bagi guru dan dosen pegawai negeri sipil. Dalam hal ini penghasilan guru yang sudah memperoleh sertifikat pendidik terutama yang berstatus Pegawai Negeri Sipil sudah dapat dikatakan cukup memadai, dimana guru yang sudah memperoleh Sertifikat  rata-rata guru yang sudah memiliki pengalaman kerja diatas 15 tahun ( Khusus Kota Medan ) gaji pokok yang diterima rata-rata Rp. 2 juta perbulan, maka tunjangan yang diterima oleh guru yang sudah memperoleh sertifikat rata-rata sebesar Rp. 2 juta artinya penghasilan guru ditambah dengan tunjangan lainnya rata-rata Rp. 4 juta – Rp. 5 juta per bulan atau Rp. 150 Ribu per hari.  Mari kita renungkan  Apa yang kita kerjakan sebagai seorang guru setaip sehari ? Jangan dibandingkan !
Sertifikasi guru seyogyanya akan meningkatkan kualitas guru  dan peningkatan mutu pendidikan secara umum. tapi pada kenyataannya mutu pendidikan kita masih rendah, perubahan pada guru yang sudah memperoleh tunjangan profesi belum terlihat, Standar yang seharusnya sesuai dengan yang diatur pada penentuan kelulusan sertifikasi baik melalui Fortopolio maupun melalui Pendidikan dan Latihan belum tercapai secara maksimal. Standar yang dimaksut terangkum kedalam empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan professional yang terinteraksi dalam kinerja guru.
Penulis tidak dapat menghakimi guru dengan menyatakan bahwa masih banyak guru yang sudah mendapatkan tunjangan belum melaksanakan tugas dengan maksimal, kesanggupannya menjalankan peran sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pengarah, pelatih, penilai dan pegevaluasi pada kegiatan pembelajaran belum terlaksana dengan baik. Artinya tujuan pelaksanaan sertfikasi  belum sepenuhnya dapat meningkatkan kualitas guru dan kualitas pendidikan secara menyeluruh. Atau paling tidak mari kita berobah dari kesalahan-kesalahan  kecil yang selama ini kita lakukan, misalnya  datang terlambat, tidak masuk kelas, hanya memberikan tugas lalu ngobrol dikantor, atau meniggalkan kelas karena urusan pribadi yang dapat dikerjakan setelah pulang sekolah, tidak perduli dengan lingkungan sekolah atau hal-hal lain kecil yang sangat  berpengaruh besar kepada kualitas kita sebagai guru.
Pada dasarnya peningkatan kualitas diri seorang guru harus menjadi tanggung jawab diri pribadi, artinya usaha untuk memperbaiki kualitas diri sendiri terletak pada diri guru sendiri, untuk itu diperlukan kesadaran untuk terus menerus menggali potensi dan menambah pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan. Tidak dapat dipungkiri Era Globalisasi saat ini memungkinkan kita sebagai guru akan mengalami suatu proses bahwa informasi yang ingin kita sampaikan sudah terlebih dahulu diketahui oleh siswa, atau mungkin yang lebih memalukan guru mengetahui informasi dari siswa. Berbeda dengan era-era sebelumnya dimana guru adalah sumber informasi, sehingga kedudukan guru dimata siswa sangat tinggi dan mulia, guru adalah seorang yang sangat pintar dan mengetahui segala hal.  Proses Globalisasi merupakan suatu keharusan yang tidak mungkin kita hindari karena Pendidikan berkaitan erat dengan proses globalisasi itu sendiri. Untuk itu kita sebagai guru harus mampu mengembangkan potensi sehingga kita dapat mengikuti terciptanya pendidikan yang berwawasan global.
Prestasi Guru harus berorientasi kepada diri pribadi, mari terus berbenah diri, laksanakan tugas dengan baik, layani anak didik seperti melayani anak sendiri, Jangan menyerah untuk terus menerus meningkatkan  pengetahuan dan kemammpuan, kesadaran dan kemauan adalah kuncinya, materi  ( uang ) tidak bisa merobah apapun, tapi jadikanlah materi ( uang ) tersebut sebagai alat untuk menambah ilmu pengetahuan sehingga dapat bermanfaat dan mendapat berkah dari Yang Maha Mengetahui, artinya seperti dijelaskan diatas bahwa tujuan utama pemberian sertifikat guru adalah pengakuan bahwa pekerjaan guru merupakan sebuah profesi, dimana segala kegiatan dalam menjalankan tugas profesi tersebut membutuhkan tanggung jawab besar karena apabila salah maka akan menyebabkan resiko yang fatal. Sebagai contoh seseorang yang berprofesi dokter,  bayangkan bagaimana jika salah mengambil tindakan, Hakim apabila salah mengambil keputusan akan sangat beresiko tinggi. Mungkin kalau dokter akan langsung dapat melihat langsung akibat dari kesalahannya mengambil tindakan kemungkinan paling besar pasien yang ditanganinya akan meninggal dunia. Resiko profesi guru sebenarnya jauh lebih berbahaya dari seorang dokter, guru apabila melakukan tindakan yang salah memang tidak melihat langsung dampaknya, karena tindakan seorang guru merupakan sebuah tindakan proses yang akan berdampak pada masa depan siswanya, dan itu tidak satu orang melainkan ratusan generasi yang duduk didalam kelas. Proses tindakan salah yang dilakukan oleh seorang guru akan terus menerus berlangsung dan akan tertanam didalam diri siswa selama guru tersebut masih masuk keruang kelas.

B.       UPAYA MENJADI GURU YANG BERPRESTASI
        Menjadi guru yang berprestasi membutuhkan perjuangan dan pengorbanan, dari beberapa guru berprestasi tingkat nasional yang penulis kenal, semuanya merupakan sosok guru yang baik rajin, menguasai  mata pelajaran yang diampu, mampu menguasai metodologi pembelajaran, mampu menyampaikan materi pelajaran secara lengkap, mempunyai sifat positif dalam membimbing siswa dan mampu memberikan motivasi dan harapan riil terhadap siswa. Keperdulian terhadap sekolah dan anak didik menjadi kunci utama menjadi seorang guru yang berprestasi, selain itu harus menguasi kompetensi  yang telah ditetapkan berupa sepuluh kompetensi yang harus dimiliki oleh guru sebagai instructional leader, yaitu: (1) memiliki kepribadian ideal sebagai guru; (2) penguasaan landasan pendidikan; (3)menguasai bahan pengajaran; (4)kemampuan menyusun program pengajaran; (6) kemampuan menilai hasil dan proses belajar mengajar; (7)kemampuan menyelenggarakan program bimbingan; (8) kemampuan menyelenggarakan administrasi sekolah; (9) kemampuan bekerja sama dengan teman sejawat dan masyarakat; dan (10) kemampuan menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran.
Pada dasarnya peningkatan kompetensi diri seorang guru harus menjadi tanggung jawab diri pribadi, artinya usaha untuk memperbaiki kompetensi diri sendiri terletak pada diri guru sendiri, untuk itu diperlukan kesadaran untuk terus menerus menggali potensi dan menambah pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan. Tidak dapat dipungkiri Era Globalisasi saat ini memungkinkan kita sebagai guru akan mengalami suatu proses bahwa informasi yang ingin kita sampaikan sudah terlebih dahulu diketahui oleh siswa, atau mungkin yang lebih memalukan guru mengetahui informasi dari siswa. Berbeda dengan era-era sebelumnya dimana guru adalah sumber informasi, sehingga kedudukan guru dimata siswa sangat tinggi dan mulia, guru adalah seorang yang sangat pintar dan mengetahui segala hal.  Proses Globalisasi merupakan suatu keharusan yang tidak mungkin kita hindari karena Pendidikan berkaitan erat dengan proses globalisasi itu sendiri. Untuk itu kita sebagai guru harus mampu mengembangkan potensi sehingga kita dapat mengikuti terciptanya pendidikan yang berwawasan global.
Sebelum menentukan kelayakan seorang guru disebut berprestasi mungkin kita perlu memahami bagaimana seseorang dapat mencapai prestasi. Menurut  sebagian besar orang mungkin prestasi itu adalah sebuah tujuan yang harus dicapai, tapi bagi saya pribadi prestasi itu adalah sebuah proses yang dilalui berhasil atau tidak, sukses ataupun tidak.
Jika dikaitkan dengan profesi guru, prestasi berarti proses seorang guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, hasilnya mungkin tidak secara langsung, sebagai contoh ketika seorang guru membimbing siswa untuk mengikuti sebuah lomba dan berhasil maka dengan sendirinya guru tersebut sudah berprestasi, atau mungkin disuatu waktu ketika seseorang yang sudah berhasil mendatangi gurunya lalu mengaku bahwa sesorang tersebut adalah muridnya, maka itulah prestasi yang seutuhnya. Dengan kata lain bahwa guru berprestasi adalah guru yang berhasil mebawa muridnya berprestasi.
Untuk mencapai hal itu bukan pekerjaan yang mudah, penulis memiliki konsep dimana guru harus mampu menjadi sosok seorang KPK (kepribadian, prilaku dan karakter)
1.        Kepribadian ( berkepribadian )
Kepribadian didefenisikan sebagai pola-pola pemikiran,perasaan dan perilaku yang tertanam dalam-dalam dan relatif permanen. (A.P. Lawrence, C. Daniel, P.J. Oliver:Psikologi Kepribadian, 2010). Kepribadian biasanya mengacu pada apa yang unik mengenai seseorang, karakteristik yang membedakan dia dari  orang lain.
Kepribadian menyiratkan prediktabilitas tentang bagaimana seseorang akan bereaksi dalam keadaan yang berbeda-beda.
Teori kepribadian lain yang berpengaruh berasal dari teori behaviorisme. Pandangan ini, diwakili oleh para pemikir seperti psikolog Amerika BF Skinner, memberikan penekanan utama pada belajar. Skiner memandang perilaku manusia terutama ditentukan oleh konsekuensi-konsekuensinya. Jika mendapatkan imbalan, perilaku akan diulangi, jika dihukum, kecil kemungkinan perilaku tersebut akan diulangi.
Dari teori tersebut diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa guru yang berprestasi adalah guru yang disenangi murid-muridnya karena menanamkan pola pemikiran positif kepada siswa dengan memberikan hadiah berupa perhatian, pujian, dan semangat untuk terus menerus belajar.
2.        Prilaku
       Prilaku merupakan hasil dari produk intelegensi seseorang . Mengandung arti kemampuan dari seseorang untuk  bertindak dengan penuh tujuan, berfikir rasional dan menghadapi lingkungan dengan efektif.
Bertindak dengan penuh tujuan mengandung arti prilaku harus mempunyai arah dan tujuan tertentu, yakni ia harus mempunyai motif. Banyak dari kita bertindak tidak dengan tujuan yang jelas. Mengikuti irama atau keinginan orang lain sehingga tidak menimbulkan pikiran positif terhadap kehidupan.
Berfikir rasional mengandung pengertian rasio dan pemahaman penting agar tercipta cara berfikir yang positif, jika kita memiliki fikiran positif tentang diri kita sendiri hal itu akan membantu kita mengembangkan kita berfikir rasional sehingga membantu kita dalam memahami orang lain.
Dalam hal ini seorang guru dituntut untuk selalu berpikiran positif, berbuatlah sedaya mampu kita, jangan hanya jadi penonton atau sekali-kali hanya menyalahkan apa yang dilakukan orang lain. Dalam hal ini penerapan prilaku harus dimulai dari diri pribadi guru itu sendiri. Sebagai contoh guru ingin menerapkan disiplin kepada siswa, maka kita sebagai guru yang harus lebih dulu disiplin, artinya berilah contoh sebelum menyuruh siswa.  
3.             Karakter
Kata "karakter" berasal dari kata Yunani: charakt√™r. Semula digunakan tanda terkesan atas koin. Ada pula yang memaknai karakter berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.
Dalam hal ini penerapan budaya malu sangat tepat, artinya menerapkan budaya malu jika tidak melakukan sesuatu yang baik misalnya malu karena orang lain cepat datang, malu karena orang lain berhasil, atau mungkin malu karena siswa lebih pintar internet, dll. Dengan menerapkan budaya malu pada diri sendiri akan membuat kita berfikir rasional sehingga membantu kita dalam memahami orang lain.
Dalam banyak kesempatan, penulis sering mengamati bahwa ternyata guru  yang disenangi oleh murid-murid adalah seorang guru yang menyenangkan. Seorang guru yang menyenangkan adalah seseorang yang mempunyai Kepribadian, Prilaku dan Karakter sebagai berikut:
a.      Memahami Kebutuhan Anak Didik
Dalam hal ini, penulis berusaha untuk bisa mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan anak didik berikut alasan atau sebab-sebabnya. Dengan demikian, kita bisa memahami apa yang menjadi kebutuhan anak didiknya.
Sebaliknya, guru yang tidak bisa memahami kebutuhan anak didiknya biasanya bersikap kaku dan tak mengenal kompromi. Ia merasa sebagai orang paling dewasa dari seluruh anak didiknya dan oleh karenanya harus selalu diikuti keinginan, pendapat, dan perintahnya. Guru yang semacam ini akan cenderung menjadi otoriter dan sudah barang tentu tidak disenangi oleh anak didiknya.
b.      Memberikan Penghargaan
Penghargaan yang dimaksudkan di sini tidak harus bermakna penghargaan yang berupa materi atau pemberian hadiah berupa barang. Penghargaan juga bisa diberikan hanya dengan kata-kata yang bermakna positif dan menyenangkan. Misalnya, pada saat seorang anak didik berhasil menyelesaikan pekerjaannya, seorang guru berkomentar, “Bagus sekali, ternyata kamu bisa menyelesaikannya dengan baik.” Sudah tentu, sang anak akan merasa senang karena apa yang telah dilakukannya mendapatkan penghargaan dari gurunya.
Sebaliknya, apabila seorang anak didik telah berhasil menyelesaikan pekerjaannya, seorang guru berkomentar sebaliknya, “Mengerjakan begitu saja lama sekali, padahal ini sebenarnya sangat mudah.” Mendengar komentar dari sang guru, sudah tentu murid yang dimaksud tidak merasakan senang di hati meskipun ia telah berhasil menyelesaikan pekerjaannya.
c.       Dapat Mengontrol Emosi dengan Baik
Mengedepankan sikap yang lembut jauh lebih bermanfaat daripada memberikan reaksi spontan dan kemarahan kepada anak didik yang melakukan kesalahan. Anak-anak yang didekati dengan kemarahan biasanya akan sulit benar-benar berhenti dari perbuatan tidak baiknya. Jika memang berhenti, biasanya tidak berangkat dari kesadarannya, melainkan karena dimarahi oleh gurunya. Berbeda sekali dengan anak yang diajak berbicara baik-baik, ia merasakan ada perhatian dari gurunya. Padahal, sudah menjadi sifat dasar setiap manusia jika diperhatikan akan merasa senang hatinya. Di sinilah sesungguhnya menjadi penting bagi seorang guru untuk dapat mengontrol emosi dengan baik agar para muridnya merasa senang, sehingga proses belajar mengajar pun dapat berjalan dengan baik.
d.      Tidak Menjaga Jarak dengan Anak Didik
Tidak menjaga jarak yang dimaksudkan di sini adalah sengaja mendekatkan diri dengan anak didiknya untuk membangun keakraban. Sebab, tidak sedikit guru yang dengan alasan menjaga wibawa maka tidak mau dekat-dekat dengan anak didiknya. Atau, kalau dalam istilah sekarang, guru yang “jaim” (jaga image).
Tidak menjaga jarak dengan anak didik bukan berarti seorang guru tidak profesional lagi dalam proses belajar mengajar. Dalam urusan yang satu ini, guru memang harus tetap tampil sebagai seorang yang mengelola proses belajar mengajar bersama murid-muridnya. Meskipun pengelola dalam proses belajar di kelas atau bahkan di luar kelas, seorang guru yang dicintai anak didiknya biasanya tetap bersahaja, tidak angkuh, atau merasa paling pintar sendiri. Ia mempunyai kepribadian yang terbuka, bisa menerima saran, atau bahkan kritik. Seorang guru yang demikian biasanya pula tidak pelit untuk mengucapkan mohon maaf dan terima kasih kepada anak didiknya.

C.      LAYAKKAH SAYA SEBAGAI GURU BERPRESTASI
Bagi saya mengajar adalah suatu seni. Seni adalah ungkapan perasaan yang diekpresikan melalui karya. Guru yang cakap mengajar dapat merasakan bahwa mengajar di mana saja adalah suatu hal yang menggembirakan, yang membuatnya melupakan kelelahan. selain itu guru juga dapat mempengaruhi muridnya melalui kepribadiannya. Prestasi Guru harus berorientasi kepada diri pribadi, mari terus berbenah diri, laksanakan tugas dengan baik, layani anak didik seperti melayani anak sendiri, Jangan menyerah untuk terus menerus meningkatkan  pengetahuan dan kemammpuan, kesadaran dan kemauan adalah kuncinya, materi  ( uang ) tidak bisa merobah apapun, tapi jadikanlah materi ( uang ) tersebut sebagai alat untuk menambah ilmu pengetahuan sehingga dapat bermanfaat dan mendapat berkah dari Yang Maha Mengetahui, artinya seperti dijelaskan diatas bahwa tujuan utama pemberian sertifikat guru adalah pengakuan bahwa pekerjaan guru merupakan sebuah profesi, dimana segala kegiatan dalam menjalankan tugas profesi tersebut membutuhkan tanggung jawab besar karena apabila salah maka akan menyebabkan resiko yang fatal. Sebagai contoh seseorang yang berprofesi dokter,  bayangkan bagaimana jika salah mengambil tindakan, Hakim apabila salah mengambil keputusan akan sangat beresiko tinggi. Mungkin kalau dokter akan langsung dapat melihat langsung akibat dari kesalahannya mengambil tindakan kemungkinan paling besar pasien yang ditanganinya akan meninggal dunia. Resiko profesi guru sebenarnya jauh lebih berbahaya dari seorang dokter, guru apabila melakukan tindakan yang salah memang tidak melihat langsung dampaknya, karena tindakan seorang guru merupakan sebuah tindakan proses yang akan berdampak pada masa depan siswanya, dan itu tidak satu orang melainkan ratusan generasi yang duduk didalam kelas. Proses tindakan salah yang dilakukan oleh seorang guru akan terus menerus berlangsung dan akan tertanam didalam diri siswa selama guru tersebut masih masuk keruang kelas.
Prinsip inilah yang menjadi pemicu saya untuk terus menerus meningkatkan prestasi saya sebagai guru, prestasi sekolah, dan prestasi siswa secara khusus.
1.        Riwayat Pendidikan
·           Tahun 1995 saya masuk program D3 jurusan Seni Rupa IKIP Medan
·           Tahun 1995 awal karir saya sebagai guru di SMP Negeri 14 Padang Sidempuan Timur.
·           Tahun 1998 karena loyalitas saya terhadap pekerjaan dan kepada kepala sekolah saya diajak serta pindah tugas bersama kepala sekolah ke SMP Negeri 13 Medan.
·           Tahun 1998 saya langsung melanjutkan pendidikan ke S-1 UNUMED
·           Tahun 2010 melanjutkan pendidikan ke S-2 UNIMED dan sampai sekarang masih duduk di semester ke III.
2.        Prestasi Sebagai Guru
Seperti sudah dijelaskan diatas bahwa prestasi guru tidak terlepas dari apa yang sudah dilakukan untuk kemajuan siswa secara khusus dan kemajuan sekolah secara umum.
Upaya-upaya yang sudah saya lakukan mencapai prestasi tersebut antara lain :

a. Pendidikan dan Pelatihan
          Saya sudah banyak mengikuti Pendidikan dan Pelatihan ( DIKLAT ), antara lain:
          

NO
NAMA / JENIS DIKLAT
TEMPAT

WAKTU


PENYELENGGARA

a.
Pelatihan Ujicoba Pendidikan Seni Nusantara, 
Tingkat Nasional
JAKARTA
45 Jam
  LPSN-BPG
  JAKARTA

b.
Pelatihan Pendidikan Seni Nusantara
Tingkat Nasional
BOGOR
45 Jam
LPSN- THE FORD PONDATION USA, JAKARTA
c.
Pelatihan Calon  Pelatih ( Tot ) Pendidikan Seni Nusantara
Tingkat Nasional
CIPAYUNG
JAWA-BARAT
40 Jam
LPSN-
THE FORD PONDATION USA, JAKARTA
d.
Pelatihan Pendidikan Seni Nusantara Tingkat Nasional
PPPPTK MEDAN
45 Jam
LPSN- THE FORD PONDATION USA, JAKARTA
e.
Pelatihan Pendidikan Seni Nusantara Tingkat Nasional
LPMP-MEDAN
42 Jam
LPSN- THE FORD PONDATION USA, JAKARTA
f.
Workshop Implementasi Ktsp
MEDAN
32 Jam
APSI JAKARTA UNIMED
g.
Bintek Ktsp
MEDAN
21 Jam
DINAS PENDIDIKAN
KOTA MEDAN
h.
Workshop/ Lokakarya Pemantapan KBK Sistem Blok
MEDAN
20 Jam
UNIMED- FBS
i.
Diklat-M G M P 
MEDAN
40 Jam
DINAS PENDIDIKAN
KOTA MEDAN
j.
Diklat-M G M P 
MEDAN
40 Jam
DINAS PENDIDIKAN
KOTA MEDAN
k.
Diklat Kerajinan Enceng Gondok
MEDAN
60 Jam
DEWAN KERAJINAN
NASIONAL – SUMATERA UTARA
l.
Workshop Metode Pembelajaran
MEDAN
16 Jam
SMP AN-NIZAM
m.
Diklat-Mgmp 
MEDAN
40 Jam
DINAS PENDIDIKAN
KOTA MEDAN
n.


Workshop
Medan Art Festival 
MEDAN
8 Jam
DEWAN KESENIAN MEDAN
 
  o.


DIKLAT MGMP        Seni Budaya

MEDAN


40 Jam

DINAS PENDIDIKAN
KOTA MEDAN
 
   p.


Diklat
TOT Modul Anti Korupsi

MEDAN


10 Jam
DEP. PENCEGAHAN
KPK
   q.


Diklat
Penelitian Tindakan Kelas
 ( P T K )
MEDAN
40 Jam
DINAS PENDIDIKAN
KOTA MEDAN
   r.
Whrkshop, Seminar Dan Pameran Seni Nasional
MEDAN
2 Hari
UNIMED
  s.
Workshop Nasional Kaya Tulis Ilmiah
MEDAN
1 Hari
GP.TENDIK INDONESIA/ UNIMED
   t.
Whorkshop Kurikulum Etika Berlalulintas
MEDAN
32 Jam
DINAS PENDIDIKAN PROPINSI SUMUT
  u.
Diklat Batik Medan
MEDAN
40 Jam
UNIMED







      Dari berbagai kegiatan diklat tersebut yang paling saya anggap prestasi tertinggi saya adalah pendidikan pelatihan Pendidikan Seni Nusantara yang dilaksanakan oleh lembaga Pendidikan Seni Nusantara bekerja sama dengan Ford Fondation, dimana dalam pelatihan ini guru dijadikan piloting untuk ujicoba kurikulum KBK, dan guru yang dianggap berhasil akan dilatih dalam TOT untuk menjadi pelatih / instruktur, dan saya mendapatkan sertifikat sebagai Instruktur tingkat Nasional.
b.      Prestasi Akademik
      Lomba Dan Karya Akademik
Prestasi Mengikuti Lomba Dan Karya Akademik Yang Meliputi :
No.
Nama Lomba/Kejuaraan
Waktu Pelaksanaan
Tingkat
Penyelenggara
1)
Pemilihahan Guru Berprestasi
28-30 Nop 2007
Kota Medan
Dinas Pendidikan
2)
Juara III    Pemilihahan Guru  Berprestasi
03-05 Nop 2008
Kota Medan
Dinas Pendidikan
3)

Juara I               Lomba Desain Sticker Aids
01 Desember 1999
Propinsi SumateraUtara
Unimed
4)
Juara II               Lomba Guru Berprestasi 2011
5-7 Desember 2011
Kota Medan
Dinas Pendidikan



c.       Karya Monomental
Karya Monumental yang pernah saya buat
No.
Nama /Jenis
Karya
Bulan/Tahun
Dihasilkan
Wilayah Pengguna/
Kebermanfaatan/
Sosialisasi

1)

Plank Merk
“ Stop Narkoba “

2007

Kota Medan


2)

Taman Sekolah

2009

Lingkungan Sekolah


3)

Visi Misi Sekolah

2007

Lingkungan Sekolah Dan Masyarakat


Visi Misi Sekolah

2010

Lingkungan Sekolah Dan Masyarakat



Jargon Sekolah

2010

Lingkungan Sekolah Dan Masyarakat


d.      Pembimbingan Teman Sejawat
 Pengalaman saya menjadi Instruktur sebagai berikut :
No.
Mata Pelajaran/
Bidang Studi
Instruktur/ Guru Inti/Tutor/ Pemandu
Tempat

1)

Pendidikan Kesenian

Instruktur  Tingkat Nasional

Lpp - Medan

2)
Pendidikan Kesenian
Instruktur  Tingkat Nasional

Lpmp – Medan


3)

Pendidikan Kesenian
Instruktur               
Smp Negeri 27 Medan

4)

Anti Korupsi

Trainer

Medan


5)
Mgmp
Pendidikan Kesenian
Instruktur            

Smp Negeri 27 Medan
6)
Mgmp
Pendidikan Kesenian
Instruktur               

Smp Negeri 27 Medan




e.       Pembimbingan Siswa
                                                                                                   
Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki siswa, saya berusaha membimbing siswa untuk mengikuti lomba yang sesuai dengan bidang yang saya ampu yaitu seni budaya dan melalui ekstrakurikuler. Dari usaha tersebut saya mampu mengantarkan beberapa siswa sampai  memperoleh hasil sebagai berikut:
No.
Nama Kejuaraan
Tingkat
Tempat Dan Waktu
1
Lomba Tari Kreasi Daerah Melayu
Propinsi Sumatera Utara
Unimed, 11Desember 2003
2
Festival Band
Kota Medan
Smp Neg.13 Medan, 01 Mei 2004
3
Lomba Hut Gudep
Kota Medan
Sma Neg. 1 Medan,07-08 April 2007
4
Pekan Seni Siswa     Lomba Lukis
Kota Medan
Smp Neg. 27 Medan, 09 Mei 2009
5
Pekan Seni Siswa     Lomba Vocal Solo
Kota Medan
Smp Neg. 27 Medan, 09 Mei 2009
6
Pekan Seni Siswa    Lomba Tari Kreasi
Kota Medan
Smp Neg. 27 Medan, 09 Mei 2009
7
Olimpiade Olahraga Dan Seni Siswa (O2SN) Lomba Lukis
Kota Medan
Taman Budaya, 22-23 Nop 2009
8
Lomba Lukis  Darmawanita      Prop.Sum. Utara
Propinsi Sumatera Utara
Kantor Gubsu, 11 Nop 2009
9
Lomba Tari Daerah Bambu III Man 1Medan
Propinsi Sumatera Utara
Man 1 Medan, 26 - 29 Peb 2010
10
Lomba  Paskibra           Esa ( Education, Sport, And Art )
 Kota Medan
Smk Telkom, 15 – 18 Peb 2010
11
Graffity Competition
Kota Medan
Polmed Medan, 10 April 2010
12
Lomba Lukis Lingkungan Hidup
Nasional
Unimed Medan, 20 Juni 2010
13
Derap Paskibra             Man 2 Medan
Propinsi Sumatera Utara
Man 2 Medan, 18 Juli 2010
14
Lomba Lukis Wajah Pahlawan
Propinsi Sumatera Utar
Museum Negeri, 09 Agt 2010
15
Lomba Lukis (O2sn)
Kota Medan
Unimed 2010
16
Lomba Lukis (O2sn)
Kota Medan
Unimed 2010
17
Lomba  Paskibra
Esa ( Education, Sport, And Art )
 Kota Medan
Smk Telkom
15 – 18 Peb 2011
18
Lomba  Paskibra SMK N 7 Medan
 Kota Medan
Smk Neg. 7 Medan, 2011
19
Gelar  Paskibra Ke 2    SMP Ar-Rahman
Propinsi Sumatera Utara
Smp Ar-Rahman Medan, 3 Apr 2011
20
Lomba Derap Paskibra ( Pameran Pendidikan )
Kota Medan
Prsu Medan, 02 Mei 2011
21
Lomba Tari Kreasi Daerah ( Pameran Pendidikan )
Kota Medan
Prsu Medan, 29 April -02 Mei 2011
22
Lomba  Paskibra Man 2 Model Medan
Kota Medan
Man 2 Medan,18 Sep 2011
23
Lomba Lukis         Jambore Sanitasi
Nasional
20-25 Juni 2011
24
Lomba LukisDwi Dasawarsa Departement Of Architecture
Propinsi Sumatera Utara
Hotel Tiara,16 – 17 Nop 2011
25
Lomba  Paskibra            Esa ( Education, Sport, And Art )
 Kota Medan
Smk Telkom, 15 – 18 Peb 2011
26
Kapas Open Cup
Propinsi Sumatera Utara
Unimed,21-22 April 2012

f.       Karya Pengembangan Profesi

-       Karya Tulis
Karya Tulis Yang Berupa Buku, Artikel (Jurnal/Majalah/ Koran), Modul, Dan Buku Dicetak Lokal.
No.
Judul
Jenis *)
Penerbit
 Tahun Terbit
1)
Kerajinan Tangan & Kesenian 1
Buku
Mitra Medan
2003
2)
Kerajinan Tangan & Kesenian 2
Buku
Mitra Medan
2003
3)
Kerajinan Tangan & Kesenian 3
Buku
Mitra Medan
2003
4)
Lembar Kerja Siswa Tekstil
Lks
Mgmp
2006
5)
Buku Latihan Kreatifitas Tekstil
Buku
Mgmp
2007
6)
Materi Lat.  Praktek Seni Rupa
Lks
Mgmp
2009
7)
Buku Materi Seni Rupa
Buku
Cv. Binawah Medan
2010
8)
Koleksi Karya Siswa
Buku
Kal.Sendiri
2011

a.       Penelitian
Pernah Melakukan Penelitian Tindakan Kelas Atau Penelitian Yang Mendukung Peningkatan Pembelajaran Dan Atau Profesional Guru
No.
Judul
Tahun
Sumber Dana
Status (Ketua/Anggota)

1)

Upaya Meningkatkan Apresiasi Seni Siswa Pada Kesenian Daerah Dengan Menggunakan Media Audiovisual

2009

APBD

Ketua

g.      Media dan Alat Pembelajaran
Apabila Bapak/Ibu pernah membuat media atau alat pembelajaran, tuliskan jenis media/alat dan keterangan lainnya pada tabel berikut.

NO
JENIS MEDIA/ALAT
TAHUN
SUMBER
DANA
STATUS
(KETUA/ANGGOTA)
1)
REPLIKA ALAT MUSIK GONG DENGAN BAHAN BUBUR KERTAS
2004
PRIBADI
KETUA
2)
ALAT PERAGA LEMBAR BALIK TENTANG TEORI WARNA
2006
BOS

KETUA
3)
ALAT PERAGA PEMANFAATAN BOTOL / KALENG BEKAS
2007
BOS
KETUA
4)
ALAT PERAGA  PRAKTEK BATIK
2007
BOS
KETUA
5)
CONTOH – CONTOH SULAMAN
2008
PRIBADI
KETUA
6)
BUNGA BONSAI
2010
BOS
KETUA
7)
BUNGA DARI SABUN
2010
BOS
KETUA
8)
KOLEKSI TUGAS
2011
PRIBADI
KETUA


h.      Pengalaman Mendapat Tugas Tambahan
Sampai saat ini  masih dipercaya  mendapat tugas tambahan antara lain sebagai berikut ini.

NO.

JABATAN

TAHUN

NAMA SEKOLAH


1)

WAKIL KEPALA SEKOLAH URUSAN KURIKULUM
2006 S/D 2008
SMP Negeri 13 Medan

2)

WAKIL KEPALA SEKOLAH
URUSAN HUMAS
 2009 S/D 2010
SMP Negeri 13 Medan

3)

WAKIL KEPALA SEKOLAH
URUSAN KESISWAAN
 20010 S/D 2013
SMP Negeri 13 Medan

4)

PEMBINA EKSTRAKURIKULER
2006 S/D 2013
SMP Negeri 13 Medan

5)

WALI KELAS             
2002 S/D 2013
SMP Negeri 13 Medan
6)

PANITIA PENERIMAAN
SISWA BARU             
2006 S/D 2012
SMP Negeri 13 Medan

7)

KETUA PANITIA MOS      

2006 S/D 2012

SMP Negeri 13 Medan

8)

PANITIA UJIAN NASIONAL

2006 S/D 2012

SMP Negeri 13 Medan

9)

KETUA PANITIA OLIMPIADE
OLAH RAGA DAN SENI
2007 S/D 2012
SMP Negeri 13 Medan

10)

PANITIA LES TAMBAHAN

2007 S/D 2012

SMP Negeri 13 Medan
11)
PANITIA PERPISAHAN
2005 S/D 2011
SMP Negeri 13 Medan
12)
PANITIA HUT RI
2007 S/D 2011
SMP Negeri 13 Medan
13)
PANITIA  MAULID
2009 S/D 2011
SMP Negeri 13 Medan


i.        Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan
                                
     Saya sudah beberapa kali menerima penghargaan di bidang pendidikan.

NO.
JENIS PENGHARGAAN
PEMBERI
PENGHARGAAN
TINGKAT *)
TAHUN

1)

JUARA III
GURU BERPRESTASI

WALIKOTA
MEDAN

KOTA MEDAN


2009

2)

GURU TELADAN

WALIKOTA
MEDAN

KOTA MEDAN

2009

5)

GURU TELADAN

WALIKOTA
MEDAN

KOTA MEDAN

2010

4)

JUARA II
GURU BERPRESTASI

WALIKOTA
MEDAN

KOTA MEDAN

2011

5)

GURU TELADAN

WALIKOTA
MEDAN

KOTA MEDAN

2010

6)

GURU TELADAN

WALIKOTA
MEDAN

KOTA MEDAN


2012

j.        Pengalaman Organisasi
Sebagai guru untuk menambah pergaulan saya ikut organisasi :
No
Nama Organisasi
Kedudukan  dalam Organisasi
Tahun
1
MGMP
Sekretaris
2008-2011
2
MGMP
Ketua
2012-2015
3
IKM
Ketua
2010-2013
6
KOPERASI
Ketua BPK
2009-2011




BAB III
KESIMPULAN
Dalam manajemen sumber daya manusia, menjadi profesional adalah tuntutan jabatan, pekerjaan ataupun profesi. Ada satu hal penting yang menjadi aspek bagi sebuah profesi, yaitu sikap profesional dan kualitas kerja. Menjadi profesional, berarti menjadi ahli dalam bidangnya. Dan seorang ahli, tentunya berkualitas dalam melaksanakan pekerjaannya. Akan tetapi tidak semua Ahli dapat menjadi berkualitas. Karena menjadi berkualitas bukan hanya persoalan ahli, tetapi juga menyangkut persoalan integritas dan personaliti. Dalam perspektif pengembangan sumber daya manusia, menjadi profesional adalah satu kesatuan antara konsep personaliti dan integritas yang dipadupadankan dengan skil atau keahliannya. Menjadi profesional adalah Minimal menjadi guru harus memiliki keahlian tertentu dan distandarkan secara kode keprofesian. Apabila keahlian tersebut tidak dimiliki, maka tidak dapat disebut guru. Artinya tidak sembarangan orang bisa menjadi guru. Kalau mengacu pada konsep pembahasan di atas, menjadi profesional adalah meramu kualitas dengan intergiritas, menjadi guru pforesional adalah keniscayaan. Namun demikian seorang guru seperti ilmuwan yang sedang bereksperimen terhadap nasib anak manusia dan juga suatu bangsa. Menjadi guru mungkin semua orang bisa. Tetapi menjadi guru yang memiliki keahlian dalam mendidikan atau mengajar perlu pendidikan, pelatihan dan jam terbang yang memadai.
Profesi guru sangat identik dengan peran mendidik seperti membimbing, membina, mengasuh ataupun mengajar. Ibarat sebuah contoh lukisan yang akan ditiru oleh anak didiknya. Baik buruk hasil lukisan tersebut tergantung dari contonya. Guru (digugu dan ditiru)  otomatis menjadi BERPRESTASI dan TELADAN.

1 komentar:

  1. Wah, prestasi Bapak sungguh luar biasa,.. Menurut analisis saya bapak sangat tepat mendapat penghargaan sebagai GURU BERPRESTASI. SELAMAT. Terima kasih

    BalasHapus